Panduan Parenting Islami Agar Anak Terbentengi dari LGBTQ+

INIKALSEL.COM – Viralnya drakor ‘Love in the Big City’ seolah menunjukkan bahwa LGBTQ+ sudah semakin meluas dimana-mana. Bahkan mirisnya, konten anak-anak juga sudah disisipi kampanye terselubung dari tindakan haram ini. Sehingga orang tua harus lebih dan ekstra waspada.
Salah satu cara untuk waspada adalah memberi pembekalan pada anak. Sehingga si kecil tidak menganggap perilaku LGBTQ+ ini sebagai sesuatu yang normal. Karena bagi seorang muslim ini adalah sebuah penyimpangan.
Dilansir melalui Instagram @taulebih.id, cara mempersiapkan anak tentang isu LGBTQ+ adalah dengan terlebih dahulu harus memahami konsep jenis kelamin di usia dini.
Setelah tahu jenis kelaminnya, kemudian anak dikenalkan pada perbedaan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan, baik secara fisik, sifat, maupun peran.
Orang tua, ayah dan ibu, adalah contoh terbaik bagi sumber pengajaran untuk figur seorang laki-laki muslim dan perempuan muslimah.
Jangan lupa untuk menyisipkan tentang penciptaan manusia serta penyebutan laki-laki dan perempuan di dalam Al-Qur’an dan hadits. Sehingga fondasi berpikir anak terbentuk dan mereka melihat segalanya harus dari kacamata Islam.
Selanjutnya, tanamkan fitrah keimanan anak. Sesuai Q.S. Al A’raf ayat 172 yang menyebut bahwa:
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ ١٧٢
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini.”
Setelah menanamkn fitrah keimanan, pupuklah dan jangan arahkan anak ke hal yang salah agar anak tidak lupa pada Allah. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi SAW. yang berbunyi:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
Artinya: “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR Bukhari dan Muslim).
Idealnya, orang tua menyampaikan pada anak sejak dini bahwa Allah adalah Rabb dan Ilah. Sehingga anak paham bahwa Allah adalah Dzat pencipta, pemilik, pengatur, sekaligus penguasa alam semesta.
Sementara Allah sebagai llah berarti anak paham bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah dan diikuti segala aturannya. Hal ini sesuai dengan QS. Adz-Dzariyat ayat 56, yang berbunyi:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦
Artinya: Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
Sehingga diharapkan anak dapat mengenal, berterima kasih, sekaligus mencintai Allah sebagai Tuhannya karena besarnya kasih sayang Allah. Bila sudah begitu, anak akan cenderung lebih mudah untuk menaati segala syari’at-Nya.
Selanjutnya, mengenalkan kisah Nabi Luth sebagai pengharaman dan larangan perilaku LGBTQ+ dalam Islam. Hal ini pun jelas tertuang dalam QS. Al-A’raf ayat 80, yang berbunyi:
وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ اَحَدٍ مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ ٨٠
Artinya: (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Apakah kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini?
Penjelasan dari ayat ini adalah, perbuatan kaum Sodom adalah hal keji. Sehingga agar seorang hamba mau menerima hukum Allah ini, ia harus terlebih dahulu mengimani Allah sebagai Rabb sekaligus llah. Sehingga ia akan sukarela menundukkan diri di bawah segala hukum Allah tanpa terkecuali.
Menguatkan tauhid anak sangat penting sebelum membahas isu LGBTQ+. Hal ini karena agar anak tidak berpikir bahwa Allah kejam dan jahat. Sebab di Q.S. Hud ayat 81-
82 diceritakan azab Allah kepada kaum Sodom pelaku LGBTQ+ yang ingkar walau sudah diperingatkan oleh dari Nabi Luth ‘alaihissalam.
قَالُوْا يٰلُوْطُ اِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَّصِلُوْٓا اِلَيْكَ فَاَسْرِ بِاَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ الَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ اَحَدٌ اِلَّا امْرَاَتَكَۗ اِنَّهٗ مُصِيْبُهَا مَآ اَصَابَهُمْۗ اِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُۗ اَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيْبٍ ٨١
فَلَمَّا جَاۤءَ اَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ مَّنْضُوْدٍ ٨٢
Artinya: “Mereka (para malaikat) berkata, ‘Wahai Lut, sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu. Mereka tidak akan dapat mengganggumu (karena mereka akan dibinasakan). Oleh karena itu, pergilah beserta keluargamu pada sebagian malam (dini hari) dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu (janganlah kamu ajak pergi karena telah berkhianat). Sesungguhnya dia akan terkena (siksaan) yang menimpa mereka dan sesungguhnya saat (kehancuran) mereka terjadi pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?
Maka, ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkannya (negeri kaum Lut) dan Kami menghujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar secara bertubi-tubi.”
Sehingga bila anak sudah memahami bahwa Allah itu bijaksana dan penuh kasih, maka ia akan mencerna kisah ini sebagai bentuk peringatan karena kasih sayang Allah. Bukan karena Allah kejam hingga menghukum kaum sodom.
Sementara itu, menurut islam, saat anak berusia 7 tahun ia sudah harus diperkenalkan secara serius pada banyam syari’at dalam Islam. Perintah mengajarkan salat pada anak juga dimulai saat anak berusia 7 tahun sehinhga mengikuti isyarat ini, berarti pembahasan isu LGBTQ+ bisa mulai diperkenalkan di usia tersebut.
Anak berusia 7 tahun sudah memasuki fase tamyiz yaitu momen mulai mampu berpikir kritis, bisa membedakan dan membandingkan satu hal dengan yang lainnya, termasuk perilaku benar dan salah.
Bila fitrah keimanan anak sudah ditanamkan sejak usia 0-6 tahun, diharapkan ia sudah mengenal dan mencintai Allah sejak dini. Sehingga di usia selanjutny yaitu 7 tahun, anak akan dengan lebih mudah untuk menerima konsep benar dan salah berdasarkan standar Allah.
BACA JUGA
