Kisah Abu Dzar Ditolak Jadi Pejabat oleh Rasulullah

Kisah Abu Dzar Ditolak Jadi Pejabat oleh Rasulullah
Kisah Abu Dzar Ditolak Jadi Pejabat oleh Rasulullah (Pexels/Tayeb MEZAHDIA)

INIKALSEL.COM – Abu Dzar al-Ghifari adalah salah satu sahabat Rasulullah saw. yang dikenal dengan kesalehan, taat pada perintah agama, punya idealis tinggi, tapi tidak begitu mahir dalam berinteraksi sosial.

Pada suatu ketika, ia melihat banyak sahabat dipercaya untuk menjadi pemimpin. Seperti misalnya di medan peran, mengelola anak yatim, hingga memimpin wilayah tertentu.

Melihat hal ini, Abu Dzar pun juga ingin menjadi pemimpin. Ia pun meminta hal tersebut pada Rasulullah.

“Mengapa engkau tidak mempekerjakan aku, wahai Rasul?”

Dikutip melalui Instagram @nuonline_id, mendengar permintaan ini, Rasulullah pun menolaknya.

“Abu Dzar, sesungguhnya kamu adalah orang yang lemah, sedangkan jabatan adalah amanah. Sungguh pada hari kiamat, jabatan akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil dengan hak dan menunaikan kewajiban yang ada pada jabatan tersebut.”

Dalam hadist yang berbeda, dikisahkan Rasulullah berkata.

“Wahai Abu Dzar, aku melihatmu sebagai sosok yang lemah dan aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri. Janganlah kamu memimpin dua orang dan janganlah kamu mengurus harta anak yatim.”

Makna kata “lemah” dalam hadits di atas bukan berarti Abu Dzar merupakan lemah secara fisik atau batin. Namun kata “lemah” di sini ditafsirkan sebagai tidak layak atau tidak ideal dalam untuk memimpin dan memegang jabatan.

Nabi saw. mengatakan dan memberi nasihat seperti itu karena Beliau mengenal betul karakter Abu Dzar sebagai salah satu sahabat yang dekat dengannya. Jadi Nabi saw tidak sembarang menunjuknya sebagai pemimpin.

Meski dikenal saleh, tapi karakter Abu Dzar adalah tidak kuat melihat kondisi tidak ideal di tengah masyarakat. Jadi bila ia dihadapkan pada situasi ini, ia berpotensi untuk memojokkan diri dari orang-orang.

Jadi kisah dalam hadist di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa kesalehan dan kecakapan dalam memimpin adalah 2 hal yang berbeda. Karena meski dikenal saleh, dekat dengan Nabi, dan baik, tapi semua itu tidak membuatnya layak menjadi pemimpin.

Karena meski sangat baik tapi kompetensi individu dalam memimpin dan memegang jabatan adalah kunci sukses dalam setiap bidang pekerjaan.

Jadi kesalehan spiritual dan kebaikan seseorang tidak ada hubungannya dengan kemampuan leadership seseorang.

Jadi bisa merasa atau melihat tidak adanya kompetensi dalam diri seseorang atau dalam diri, maka sebaiknya hindari tawaran jabatan karena pertanggungjawabannya di pengadilan akhirat sangat berat.

Wallahu Alam.

Tinggalkan Komentar