Sejarah Kalender Hijriah

Sejarah Kalender Hijriah
Ilustrasi Kalender (Pexels/Artem Podrez)

INIKALSEL.COM – Mengenal sejarah kalender hijriah. Dilansir melalui Instagram @nuonline_id, pengenalan kalender Hijriah di Indonesia diperkirakan datang berbarengan dengan masuknya Islam ke Jawa.

Pada saat itu, para pendakwah menyebarkan islam ke jawa melalui kebudayaan, salah satunya yaitu sistem penanggalan berdasarkan revolusi bulan terhadap bumi (komariah) yang dikenal dengan penanggalan Hijriah.

Penetapan kalender hijriah tentu berbeda dengan kalender jawa yang menggunakan penanggalan Saka dan masehi yang berdasarkan pada rotasi matahari.

Dalam kalender Hijriah, satu tahun bisa lebih pendek 11 hingga 12 hari dari penanggalan Masehi atau kalender Solar.

Lebih lanjut, 12 nama bulan yang dikenal dalam kalender Hijriah adalah sebagai berikut: Muharam, Shafar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah.

Sementara itu, sejarah kalender hijriah bermula saat masa pemerintahan Umar bin Khattab. Saat itu, surat-surat kekhalifahannya tidak memiliki penanggalan yang jelas.

Sehingga untuk menetapkan sistem kalender ini, awalnya para sahabat memiliki perbedaan pendapat mengenai peristiwa yang akan dijadikan acuan. Mulai dari turunnya wahyu, wafatnya Rasulullah, hingga peristiwa hijrah.

Setelah melewati perdebatan, akhirnya Umar bin Khattab memutuskan untuk memilih peristiwa hijrah sebagai acuan untuk penetapan kalender hijriah. Karena momen ini dinilai pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Selanjutnya, kembali terjadi perdebatan mengenai awal dari tahun Hijriah. Ada sahabat yang memilih Rajab, tapi sebagian yang lain memilih Ramadhan.

Usman akhirnya mengemukakan pendapatnya untuk memilih Muharram sebagai awal dari tahun Hijriah. Hal ini dikarenakan Muharram adalah bulan suci (asyhurul hurum) dan waktu pulangnya jamaah haji.

Jadi dari hasil diskusi ini umat muslim di masa kekhalifahan Umat bin Khattab tidak lagi bingung saat mengurus surat-menyurat, pun saat mencatat peristiwa penting dan bersejarah.

Sistem ini kemudian terus dipakai hingga sekarang. Begitu pula saat hendak menentukan awal Ramadhan dan hari-hari raya dalam Islam yang terus berubah setiap tahun karena revolusi bulan terhadap bumi.

Wallahu Alam.

Tinggalkan Komentar