Bolehkah Menggabung Niat Qadha Puasa dengan Puasa Sunah?

INIKALSEL.COM – Qadha puasa bisa dilakukan kapan pun asal tidak di hari raya, hari-hari tasyrik, dan sebelum Nisfu Sya’ban tahun berikutnya.
Hukun melaksanakan qadha puasa adalah wajib, sama seperti puasa Ramadhan. Karena ibadah ini dilakukan untuk menggantikan puasa yang ditinggalkan saat Ramadhan.
Cara melakukannya pun sama, yaitu membaca niat dan menahan hawa nafsu sejak fajar hingga magrib.
Lantas, apakah puasa qadha bisa digabung dengan puasa sunah?
Dilansir melalui NU Online, puasa qadha boleh digabung dengan puasa sunnah seperti puasa Senin Kamis, puasa Arafah, puasa Syawal, puasa Ayyamul Bidh, puasa Asyura, puasa Daud, puasa Rajab, puasa Sya’ban, dan sebagainya.
Menggabung niat qadha puasa dan puasa sunnah tidak akan mengurangi pahala keduanya. Jadi tidak masalah bila umat muslim melakukan puasa dengan 2 niat di satu waktu yang bersamaan.
Pendapat di atas pun diperkuat dengan tafsir dari sejumlah ulama. Di antaranya:
Syekh Dr. Ali Jum’ah
Syekh Abu Bakar Syatha
Syekh Ar-Ramli
Ibnu Hajar al-Haitamiy
Syekh al-Barizi
Namun umat muslim harus mendahulukan niat qadha puasa karena sifatnya wajib tapi kalau ia melaksanakannya di waktu sunah puasa, maka ia akan mendapatkan pahala dari puasa wajib dan sunahnya.
Dengan demikian, umat muslim sebenarnya diberi kebebasan dan keringanan dalam mengganti puasa yang ditinggalkannya saat bulan Ramadhan. Jadi bila berhalangan puasa karena sakit, haid, nifas, hamil, menyusui, dan musafir, maka ia bisa menggantinya sekaligus sambil berpuasa sunah.
Sementara itu, niat qadha puasa juga harus dilakukan di malam hari atau sebelum imsak. Bila berniatnya dilakukan setelah subuh maka puasanya tidak sah.
Karena umat muslim harus mendahulukan qadha puasa yang hukumnya wajib di atas yang sunah dan hukum membaca niat saat puasa fardu adalah sebelum imsak atau pada malam hari.
Lalu hal-hal yang membatalkan puasa saat qadha puasa juga sama halnya dengan hal-hal yang membatalkan puasa Ramadhan. Seperti makan dan minum dengan sengaja, melakukan hubungan suami istri di siang hari, muntah dengan disengaja, gila, murtad, dan lain sebagainya.
BACA JUGA
