Bolehkan Umat Muslim Menerima Angpao saat Imlek?

Bolehkan Umat Muslim Menerima Angpao saat Imlek?
Ilustrasi Angpao (Pexels/RDNE Stock project)

INIKALSEL.COM – Tahun baru Cina atau dikenal juga dengan Imlek akan segera tiba pada 29 Januari 2025. Orang Tionghoa pun menyambutnya dengan suka cita dan biasanya dilakukan kumpul keluarga sambil membagikan angpao.

Angpao adalah salah satu tradisi bagi orang Tionghoa, dimana mereka akan membagikan sejumlah uang dalam amplop bagi kerabat dan sahabat.

Lantas, apakah umat islam boleh menerima angpao saat imlek?

Dilansir melalui Instagram @nuonline_id, saling memberi, termasuk memberi dan menerima angpao, adalah salah satu perbuatan baik. Sehingga sama seperti perbuatan baik lainnya, hal ini termasuk hal yang dianjurkan, terlepas dari latar belakang agama maupun kepercayaan si pemberi dan penerima.

Islam pun mengajarkan pentingnya kebaikan dan kedermawanan kepada sesama. Sehingga umat islam boleh menerima angpao dan hadiah Natal, selama isinya tidak haram dalam Islam. Karena menerima angpao dan hadiah natal tidak dianggap sebagai bentuk partisipasi dalam perayaan kepercayaan tersebut. Bukan pula pembenaran terhadap keyakinan yang dilakukan orang lain.

Sebaliknya, menerima hadiah dari non muslim justru bisa dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap teman atau kerabat yang merayakan kepercayaannya. Sehingga bisa mempererat hubungan dan mempromosikan toleransi antar umat beragama.

Kehalalan menerima angpao ini juga ditulis dalam kitab al-Mughni, Jilid 9, halaman 327, bahwa menurut pendapat ulama yang lebih shahih, menerima hadiah dari non-Muslim yang memusuhi islam sekalipun boleh dan sah. Begitu pula menerima hibah dari non-Muslim yang hidup damai dengan umat muslim tentu diperbolehkan dan halal untuk diterima.

Senada dengan hal tersebut, Imam Nawawi dalam kitab Syarah Nawawi ala Muslim, Jilid 455 juga menulis tentang Nabi Muhammad yang menerima hadiah-hadiah dari orang-orang kafir dari Ahlul Kitab seperti orang Nasrani, Raja Mauqis [raja Byzantium] dan raja-raja Syam.

Sikap Nabi Muhammad ini menunjukkan hubungan diplomatik dan memperkuat ikatan antara umat Islam dan penguasa-penguasa di luar wilayah Islam, bukan karena Beliau meyakini kepercayaan pemimpin non muslim yang memberinya hadiah.

Sehingga dari kisah Nabi Muhammad di atas, menerima hadiah dari non muslim pada saat itu dinilai mencerminkan sikap toleransi dan perdamaian dalam menyebarkan ajaran Islam.

Allah juga memerintahkan umat muslim untuk bersikap baik dan adil kepada semua agama, suku, atau ras mereka. Sehingga umat Islam tidak perlu melihat latar belakang seseorang saat bersikap adil, toleransi, dan baik pada orang lain.

Wallahu Alam.

Tinggalkan Komentar