Imbas Kecelakaan Pesawat Jeju, Menteri Transportasi Korsel Siap Mundur

Bebek Jeju Air
DNA Bebek ditemukan di mesin Jeju Air, diduga Baikal Teals) (tangkapan layar YouTube South China Morning Post)

INIKALSEL.com – Menteri transportasi Korea Selatan (Korsel) katakan ia bermaksud mengundurkan diri karena ntuk bertanggung jawab atas kecelakaan mematikan pesawat jet Boeing Jeju Air pada 29 Desember silam

Jeju Air 7C2216, yang berangkat dari ibu kota Thailand, Bangkok, menuju Muan di Korea Selatan bagian barat daya, mendarat tanpa roda dan meledak setelah lewat landasan pacu setelah menghantam tembok.

“Saya merasa sangat bertanggung jawab atas bencana ini,” kata Park Sang-woo dalam jumpa pers pada Selasa (7/1/2024).

Ia mengatakan akan mencoba mencari waktu yang tepat untuk mengundurkan diri setelah mengatasi situasi saat ini.

Kementerian transportasi juga mengatakan akan segera meningkatkan keselamatan sistem pendaratan bandara.

Pasalnya para pakar katakan sistem pendaratan bandara berkontribusi terhadap kecelakaan dahsyat yang menewaskan 179 orang di dalamnya.

Para ahli keselamatan udara mengatakan tembok untuk menopang antena  localizer yang befungsi pandu pendaratan dalam jarak pandang yang buruk, terlalu kaku dan terlalu dekat dengan ujung landasan pacu.

Kementerian  Transportasi Angkat Bicara Terkait Tembok di Bandara Muan

Joo Jong-wan, wakil menteri transportasi untuk penerbangan sipil, mengakui bahwa langkah-langkah keselamatan tidak memadai saat membangun tembok tersebut.

Tetapi ia katakan bahwa langkah-langkah tersebut dilakukan sesuai dengan peraturan di Korea dan luar negeri.

Polisi sedang menyelidiki bagaimana proses pembangunan tembok tersebut, katanya.

Pekan lalu, kepolisian Korsel geledah Jeju Air dan operator Bandara Internasional Muan sebagai bagian dari penyelidikan mereka terhadap kecelakaan itu.

Bulu-bulu burung tampak di salah satu mesin yang ada dari lokasi kecelakaan, kata penyelidik utama Lee Seung-yeol.

Lee tambahkan bahwa rekaman video menunjukkan bahwa ada burung yang menyerang salah satu mesin.

Dua penyelidik Korea pada hari Senin berangkat ke Amerika Serikat untuk memulihkan dan menganalisis perekam data penerbangan yang rusak selama kecelakaan itu, bersama dengan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS.

Perekam data penerbangan, bersama dengan perekam suara kokpit, adalah dua kotak hitam yang berisi informasi penting tentang kecelakaan itu.

Lee mengatakan akan memakan waktu tiga hari untuk mengekstrak file dari perekam data penerbangan.

Lalu butuh dua hari lagi untuk melakukan analisis awal informasi dasar seperti apakah satu atau dua mesin rusak.

Misteri Roda Pesawat Tak Berfungsi Belum Terkuak

Masih belum terjawab mengapa pesawat tidak menggunakan roda pendaratannya dan apa yang menyebabkan pilot tampaknya terburu-buru melakukan upaya pendaratan kedua.

Padahal, sebeumnya ia informasikan ke pengawas lalu lintas udara bahwa pesawat telah mengalami tabrakan burung dan mengumumkan keadaan darurat.

Para ahli mengatakan tabrakan burung biasanya tidak menyebabkan roda pendaratan tidak berfungsi.

Para penyelidik sempat kumpulkan mengumpulkan transkrip lengkap dari perekam suara kokpit yang bisa jadi petunjuk penyebab kecelakaan pesawat Jeju Air.

Mereka akan segera memutuskan akan mengungkapkannya meski belum ada pene

Tinggalkan Komentar