Media Korea Ungkap Permasalahan Shin Tae-yong dan Erick Thohir Dalam Dunia Sepak Bola

Media Korea Ungkap Permasalahan Shin Tae-yong dan Erick Thohir Dalam Dunia Sepak Bola
Shin Tae-yong dan Erick Thohir (IG / @shintaeyong7777)

INIKALSEL.COM – Sepak Bola Asia Tenggara, terkhusus Timnas Indonesia dinilai tidak sabar hingga pecat Shin Tae-yong dari kursi pelatih padahal kini timnas tersebut sedang naik daun.

Kehadiran pelatih Korea Selatan di kancah sepak bola Asia Tenggara terus menjadi sorotan hingga sampai saat ini.

Hal itu terutama karena peran mereka dalam Piala AFF yang dianggap memiliki keunikan tersendiri, bahkan kompetisi dua tahunan ini disebut-sebut menciptakan antusiasme tinggi di kawasan ASEAN, yang turut berdampak pada perjalanan Shin Tae-yong sebagai pelatih Timnas Indonesia.

“Pemecatan pelatih Shin Tae-yong juga menunjukkan ketidaksabaran sepak bola Asia Tenggara di balik kegairahan sepak bola. Dibandingkan Kualifikasi Piala Dunia atau Kualifikasi Olimpiade, Piala Mitsubishi adalah pertarungan ‘katak dalam tempurung’ yang tidak terlalu penting, tetapi itu adalah pilihan ekstrem yang dibuat dengan dalih kegagalan dalam pertandingan dengan kebanggaan nasional yang hanya ada di Asia Tenggara,” tulis Sisajournal, sebagaimana yang dikutip INIKALSEL.COM dari Suara.

Dalam beberapa tahun terakhir, pelatih-pelatih asal Negeri Ginseng mulai mendominasi panggung sepak bola Asia Tenggara.

Keberhasilan Park Hang Seo di Vietnam menjadi pembuka jalan bagi pelatih lain, seperti Shin Tae-yong di Indonesia, Kim Pan Gon di Malaysia, hingga Kim Sang Sik yang kini memimpin Vietnam. Laos juga tak ketinggalan, dengan mempercayakan kursi pelatih kepada Ha Hyeok Jun.

Kiprah pelatih Korea di ASEAN memicu perhatian media Korea Selatan, salah satunya Sisajournal, yang membandingkan Piala AFF dengan Piala Dunia.

Kompetisi ini disebut menciptakan euforia berlebih yang tak jarang menempatkan para pelatih dalam posisi sulit.

Shin Tae-yong dan Realita Sepak Bola Asia Tenggara

Artikel yang dimuat Sisajournal mengulas perbedaan nasib di antara Shin Tae-yong, Park Hang Seo, dan Kim Sang Sik.

Hang Seo dan Sang Sik menuai pujian atas prestasi mereka di Vietnam, sementara Shin menghadapi pemecatan meski berhasil membawa Indonesia ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Menurut laporan tersebut, masyarakat Vietnam sangat antusias menyambut kemenangan di Piala AFF, terutama setelah tim mereka mengalahkan rival abadi, Thailand, di partai final.

Namun, Shin Tae-yong dinilai menjadi korban ekspektasi tinggi terhadap Piala AFF, yang dianggap Sisajournal sebagai kompetisi dengan kebanggaan unik khas Asia Tenggara.

Di sisi lain, pelatih asal Korea ini telah mencetak pencapaian penting dengan membawa Indonesia melangkah lebih jauh di Kualifikasi Piala Dunia, sesuatu yang jarang diraih Timnas sebelumnya.

Meski demikian, kegagalannya mempersembahkan gelar Piala AFF disebut menjadi alasan utama pemutusan kontrak Shin Tae-yong oleh PSSI.

Satu sisi, Bukan Karena Piala AFF, Ternyata Shin Tae-yong Dipecat Gara-gara Hal Ini, Diungkap Langsung Erick Thohir.

Imbas pemecatan Shin Tae-yong dan berbagai tudingan di media sosial, Erick Thohir, Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri BUMN, mengaku siap mundur dari jabatannya jika ada desakan dari masyarakat, hal ini ia ungkapkan dalam wawancara sebuah acara YouTube.

“Kalau Glen minta saya mundur, saya mundur,” ujar Erick Thohir dengan tegas.

Pernyataan tersebut muncul di tengah kontroversi pemecatan Shin Tae-yong (STY) sebagai pelatih Timnas Indonesia pada 6 Januari 2025. Langkah ini menuai kekhawatiran publik karena dianggap bisa menghambat ambisi Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia 2026.

Namun, Erick Thohir menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi masa depan sepak bola Indonesia.

“Kalau rasa pesimisme itu, atau semua lihat saya harus mundur, ya saya mundur. Saya izin ke FIFA, saya pamit,” katanya.

Kontroversi mengenai STY sebenarnya telah memanas sejak laga kualifikasi melawan China pada Oktober 2024. Erick mengungkapkan bahwa dinamika internal di tubuh PSSI dan komunikasi dengan STY menjadi alasan utama di balik pemecatan ini.

“Sebelum pertandingan di China itu sudah terjadi dinamika yang cukup tinggi. Kalau dilakukan (pemecatan STY) saat itu, jarak ke pertandingan berikutnya cukup singkat,” papar Erick. Ia menambahkan, “Risiko tentu ada, tetapi lebih baik ambil risiko daripada menyesal di kemudian hari.”

Erick juga menyebut hubungan personalnya dengan STY tetap terjaga meski keputusan ini sulit. Menurut Erick, STY sudah legawa menerima pergantian ini.

Langkah ini dilakukan demi mencari pelatih yang mampu memberikan “ekstra effort” dalam aspek komunikasi dan taktikal.

Langkah strategis PSSI ini terwujud dengan menunjuk Patrick Kluivert sebagai pelatih baru Timnas Indonesia pada 8 Januari 2025. Pelatih asal Belanda tersebut menandatangani kontrak selama dua tahun dengan opsi perpanjangan.

Dalam wawancaranya dengan De Telegraaf, Kluivert mengungkapkan antusiasmenya melatih Timnas Indonesia.

“Indonesia adalah negara dengan hampir 300 juta penduduk, banyak di antaranya sangat menyukai sepak bola,” ujarnya.

Kluivert juga optimis dengan potensi pemain Indonesia, terutama mereka yang berkarier di Eropa. Kehadirannya diharapkan dapat memaksimalkan talenta pemain naturalisasi, banyak di antaranya memiliki hubungan dengan Belanda.

“Selain itu, kini ada peluang untuk memanfaatkan pemain-pemain Indonesia yang bermain di Eropa,” tambahnya. Keputusan ini juga sejalan dengan pernyataan Erick Thohir beberapa bulan lalu, di mana ia menyebut siap mundur jika kinerjanya tidak memuaskan publik.

Setelah kekalahan Indonesia dari Jepang pada kualifikasi Piala Dunia 2026 pada November 2024, Erick sempat menyatakan bahwa posisinya sebagai Ketua Umum PSSI siap dievaluasi.

Persamaan dalam pernyataan Erick ini menunjukkan konsistensinya dalam menghadapi kritik dan tanggung jawab. Di satu sisi, ia menekankan pentingnya mengambil risiko demi kemajuan sepak bola Indonesia. Di sisi lain, ia siap mundur jika masyarakat menilai dirinya gagal membawa perubahan yang diharapkan.

Dengan Patrick Kluivert di kursi pelatih, publik kini menaruh harapan besar untuk melihat Timnas Indonesia tampil lebih baik.***

Tinggalkan Komentar