Update Pasokan LPG 3 Kilogram di Kalimantan: Masih Normal?

INIKALSEL.COM – Di tahun 2025, masyarakat Kalimantan dihebohkan dengan kelangkaan LPG 3 Kg.
Keluhan dan keresahan warga Kalimantan bahkan ramai diperbincangkan di media sosial seperti Facebook, Instagram, dan grup WhatsApp.
Tentu saja, hal ini terkait sulitnya mendapatkan gas melon yang langka serta harganya yang melambung tinggi dalam sepekan terakhir.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Kalimantan bersama tim Satgas, turun langsung ke lapangan sejak Rabu 1 Januari 2025 kemarin.
Hal itu untuk melakukan pengecekan oleh tim yang mengunjungi beberapa agen dan pangkalan gas di wilayah Kalimantan, namun sebagian besar agen tutup karena libur hari besar.
Satu-satunya pihak yang berhasil dimintai keterangan adalah Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Desa Hajak, Kecamatan Teweh Baru yang bertanggung jawab atas pasokan gas untuk Barito Utara dan Murung Raya.
Pihak SPBE menegaskan, bahwa pasokan gas dalam kondisi normal dan bahkan ditambah untuk mengantisipasi kebutuhan jelang perayaan hari besar seperti Ramadhan.
“Stok selalu penuh, penyaluran lancar, tidak ada kendala distribusi. Setiap hari ada 14 Loading Order (LO) untuk Muara Teweh dan Puruk Cahu. Jika hari ini masuk, esok hari LPG sudah harus habis disalurkan,” ujar pihak SPBE, sebagaimana yang dikutip INIKALSEL.COM dari Jejak Rekam.
Menurut Pihak SPBE, pada hari-hari biasa pengiriman dilakukan dengan dua truk, namun sewaktu-waktu bisa saja meningkat menjadi lima truk.
Pihak SPBE juga membantah isu yang beredar bahwa pasokan gas untuk Barito Utara berasal dari Ampah dan mereka menegaskan bahwa suplai gas masih berasal dari wilayah Barito Utara sendiri.
Meski demikian Dewi Handayani mengakui, bahwa pihak Disdagrin hanya memiliki wewenang dalam hal sosialisasi, pembinaan, dan koordinasi, sementara penindakan terhadap pelaku yang menjual gas dengan harga tinggi bukanlah ranah mereka.
“Kami heran, pasokan gas normal bahkan lebih, tapi kelangkaan tetap terjadi dan harga naik drastis. Penindakan terhadap pelaku nakal adalah wewenang aparat penegak hukum,” jelas Dewi.
Untuk mengungkap lebih jauh penyebab kelangkaan dan lonjakan harga LPG 3 Kg di Muara Teweh, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dewi Handayani, memastikan bahwa Dinas Disdagrin selalu membuat nota pertimbangan yang nantinya akan dikirimkan kepada pimpinan untuk menentukan langkah selanjutnya.
Karena kata Dewi Handayani tugas tim satgas adalah melakukan koordinasi ke atasan sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi).
“Kami juga bertugas melaksanakan sosialisasi terkait distribusi gas elpiji hingga ke pangkalan,” jelasnya lagi.
Lebih lanjut, Dewi menuturkan bahwa Disdagrin tidak memiliki wewenang untuk mengecek harga di tingkat pengecer.
“Kami hanya melakukan pengecekan hingga pangkalan. Jika di pengecer ada yang menjual lebih dari Rp60 ribu, kami perlu menelusuri sumber gas tersebut,” katanya.
Bahkan kadang-kadang, pengecer merasa takut dan mengaku menjual dengan harga Rp40 ribu, padahal kenyataannya lebih tinggi dan maka dari itu, tim satgas bakal berusaha transparan dalam pengecekan ini.
Dewi juga menegaskan bahwa selama pengecekan, tidak ditemukan kendala atau indikasi kelangkaan seperti yang sempat diisukan.
Sehingga dia meminta agar masyarakat tidak mudah terpancing isu yang belum terkonfirmasi.
“Kami berharap distribusi gas elpiji 3 kg berjalan lancar dan aman. Tim akan terus melaporkan hasil pengecekan ini secara tertulis dan lisan kepada pimpinan. Tim dari bidang perdagangan juga akan menyusun laporan lengkap untuk pimpinan kami,” pungkasnya.
Dengan adanya langkah ini, diharapkan ketersediaan gas elpiji 3 kg di daerah setempat tetap terjaga dan masyarakat dapat memperoleh gas dengan harga yang sesuai ketentuan.***
BACA JUGA
