Orang Kaya Bersyukur dan Miskin Bersabar, Mana yang Lebih Baik?

INIKALSEL.COM – Pandangan islam tentang orang kaya bersyukur dan miskin bersabar, mana yang lebih baik?
Dilansir melalui Instagram @nuonline_id, Rasulullah pernah berdoa agar hidup, wafat, dan dikumpulkan bersama orang-orang miskin. Hal ini diperkuat dengan hadist lain yang menyebut bahwa orang miskin masuk surga lebih dulu dibanding orang kaya.
Sehingga ada yang beranggapan bahwa Nabi Muhammad SAW miskin dan orang miskin lebih utama dibanding orang kaya.
Para ulama pun menjelaskan maksud dari hadist dalam doa di atas. Karena maknanya tidak hanya sebatas pemahaman literal. Menurut ulama, kata ‘miskin’ dalam doa tersebut merujuk pada sifat tawadhu (rendah hati), bukan kekurangan harta atau miskin.
Sehingga artinya, Rasulullah meminta pada Allah agar hidup, wafat, dan bisa berkumpul dengan orang yang rendah hati. Karena sifat ini merupakan salah satu yang dianjurkan dalam islam.
Sementara itu, An-Nawawi juga menambahkan, orang miskin lebih dulu masuk surga karena lebih mereka karena tidak memiliki fasilitas untuk melakukan kemaksiatan seperti yang dimiliki orang kaya. Sehingga hisabnya lebih mudah.
Di sisi lain, ada juga umat islam yang menganggap Rasulullah itu kaya. Sama seperti contoh di atas, hal ini mengacu pada hadist Rasulullah yang memerintahkan umatnya untuk bekerja agar terhindar dari kefakiran. Karena kondisi ini dianggap bisa merusak iman.
Padahal faktanya, umat muslim baik yang miskin maupun yang kaya memiliki kesempatan yang sama untuk masuk surga dan sama-sama mulia.
Al-Munawi lalu menambahkan, si kaya maupun kemiskinan masing-masing memiliki sisi baik dan buruk, tergantung masing-masing individu dalam menyikapi kehidupan.
Hal ini diperkuat dengan hadist Rasulullah yang secara proporsional perna berdoa agar Allah hindarkan dari ‘fitnah kefakiran’ dan ‘fitnah kekayaan’.
Fitnah dalam doa tersebut memiliki makna ujian. Orang kaya diuji dengan sifat sombong, pamer, dan godaan untuk membelanjakan hartanya di jalan maksiat.
Sementara orang miskin diuji dengan sifat iri, dengki, merendahkan diri di hadapan orang kaya, dan godaan maksiat demi jalan pintas mendapatkan uang.
Ibnu Hajar al-Haitami pun memberikan kesimpulannya, bahwa orang kaya yang bersyukur lebih baik daripada orang fakir yang bersabar. Karena orang kaya memiliki fasilitas untuk melakukan ibadah yang tidak bisa dilakukan orang miskin. Seperti ibadah sosial dengan hartanya selain ibadah individual.
Namun yang lebih utama sebenarnya sikap masing-masing individu dalam ujian yang dijalaninya, baik dalam keadaan kaya maupun miskin. Bila mereka mendekatkan diri pada Allah, berbuat baik kepada sesama, dan menjauhi maksiat maka mereka adalah hamba yang beruntung.
BACA JUGA
