4 Etika Pendakwah dalam Al-Qur’an

4 Etika Pendakwah dalam Al-Qur'an
Ilustrasi Pendakwah (Instagram/nuonline_id)

INIKALSEL.COM – Dilansir melalui Instagram @nuonline_id, sejarah perkembangan Islam pernah menyebut posisi dakwah sebagai sesuatu sentral dan terpuji.

Hal ini karena dai (pendakwah) memiliki peran sebagai salah satu instrumen penentu dalam perkembangan Islam. Namun seiring perkembangan zaman ternyata peran dan fungsi pendakwah ini mengalami pergeseran nilai. Sehingga saat ini ada sebagian pendakwah yang seakan mengabaikan norma dan etika.

Seperti kejadian viral beberapa waktu lalu saat Gus Miftah mengolok-ngolok penjual es teh saat sedang pengajian. Seketika hal ini pun menuai banyak kritik dan kecaman dari masyarakat kuas karena dinilai hal ini tidak selayaknya dilakukan oleh pendakwah.

Sementara itu, kondisi ini ternyata pernah dijelaskan oleh KH Bisri Musthofa dalam kitab ‘Zâduz Zu‘amâ’ wa Dakhîratul Khuthabâ’’ (bekal para pemimpin dan pendakwah). Ia menyebut bahwa ada 4 etika yang harus dimiliki para pendakwah. Dengan mengutip ayat Al-Qur’an, beliau menerangkan bahwa:

1. Pemaaf dan Toleran

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ

Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. (QS. Ali Imran: 159)

Dalam menyampaikan ajaran islam, terkadang tidak berjalan mulus dan memiliki tantangan. Sama seperti para Nabi dan sahabat terdahulu, saat mengingatkan seseorang atau kelompok untuk kembali ke jalan Allah, terkadang jamaah tidak langsung menurut atau bahkan menolak kebenaran.

Perbedaan juga mungkin terjadi saat sedang berdakwah. Sehingga pendakwah yang baik adalah yang sabar, pemaaf, dan toleran.

2. Visi Kemaslahatan Jamaah dan Kasih Sayang

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ۝١٢٨

Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah: 128)

Dalam menyampaikan dakwah hendaknya sesuatu yang bermanfaat. Sehingga hal baik yang disampaikan tersebut diharapkan bisa membawa kemaslahatan bagi banyak orang.

Agar tujuan ini bisa tercapai, Al-Qur’am pun telah mengaturnya, yaitu dengan santun dan kasih sayang. Hindari kalimat mengejek dalam berdakwah karena hal tersebut tidak sesuai dengan kesantunan yang diajarkan islam.

Alih-alih jamaah akan menjadi pribadi lebih baik, ejekan yang dilontarkan pendakwah tersebut bisa melukai perasaan dan mereka bisa mencontohnya untuk ikut mengejek orang lain. Sehingga jangan menormalisasi ejekan walau niatnya bercanda, terlebih dalam menyampaikan ajaran islam.

Bila sudah begini, bagaimana visi kedamaian bisa tercipta bila sudah ada salah satu yang tersakiti?

3. Santun dan Rendah Hati

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ

Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) (QS. Luqman: 18)

Serupa dengan poin di atas, pendakwah juga harus rendah hati, tidak sombong, dan menjaga perkataannya. Sehingga apa yang disampaikannya bisa diterima jamaah dengan baik.

Sesuatu yang tidak disampaikan dengan baik karena ada terselip rasa sombong tentu tidak disukai Allah. Sehingga tidak ada keberkahan dalam majelis tersebut.

4. Lakukan Apa yang Disampaikan

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٣

Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Al-Shaff: 3)

Bila berkaca saat Rasulullah berdakwah, beliau mencontohkan apa yang diucapkannya melalui perilakunya. Sehingga ia tidak hanya bicara tapi juga bisa melakukan.

Hal ini senada dengan ayat di atas. Karena Allah tidak menyukai hambaNya yang hanya bisa berkata tanpa ia juga melakukannya.

Sehingga para pendakwah sebaiknya harus yang bisa mempertanggung jawabkan perkataannya dengan juga bisa melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga tak salah bila habluminannas atau hubungan antar telah diatur dalam ajaran islam. Al-Qur’an dan hadist pun telah banyak menerangkan tentang hal ini, termasuk etika para pendakwah.

Karena sama seperti habluminallah atau hubungan dengan Allah, habluminannas adalah sesuatu yang tidak bisa disepelekan. Jadi jangan sampai habluminallah bagus tapi habluminannas, terlebih dalam beretika yang dilakukan pendakwah.

Hal ini karena pendakwah adalah cermin dan contoh yang akan ditiru oleh para jama’ahnya. Sehingga jangan sampai mereka tidak berhati-hati dalam beretika kemudian contoh buruk ini ditiru oleh masyarakat luas.

Wallahu Alam.

Tinggalkan Komentar