Kekerasan Aparat dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Pandangan Islam

Kekerasan Aparat dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Pandangan Islam
Ilustrasi Kekerasan Aparat (Pexels/Markus Spiske)

INIKALSEL.COM – Aparat adalah para penegak hukum yang bertugas melindungi negara dan menjaga keamanan warga. Namun dalam beberapa kasus kita pernah mendengar isu tentang aparat yang tidak bekerja sesuai seharusnya.

Seperti misalnya aparat yang menggunakan kekerasan hingga mencelakakan korban yang tak bersalah atau aparat yang berusaha menertibkan masa dengan kekerasan.

Dilansir melalui Instagram @nuonline_id, Syekh ‘Abd al-Qâdir al-Jîlânî menjelaskan etika dalam amar ma’ruf nahi munkar oleh para aparat ini. Dalam sistem demokrasi, demo adalah salah satu bentuk ekspresi yang sah karena ketidakpuasan pada pemerintah. Sehingga bila sesuatu yang salah dilakukan oleh pemerintah, masyarakat bisa melakukan demo sebagai bentuk protes. Tentunya dengan sikap yang baik dan tidak anarkis.

Namun sering kali, ada aparat yang seharusnya menjaga ketertiban dan keamanan justru melakukan kekerasan pada pada pendemo. Hal ini tentu tidak dibenarkan karena mereka tidak memiliki hak untuk mengintimidasi para pendemo dengan alasan menertibkan.

Sebaliknya, sebagai penegak hukum, aparat seharusnya berempati, melakukan pendekatan persuasif, dan menghindari kekerasan walau tujuannya untuk menertibkan.

Karena aksi kekerasan dalam amar ma’ruf nahi munkar adalah penyimpangan dari metode yang diajarkan oleh Rasulullah.

Hal ini sama halnya seperti mengingatkan orang untuk puasa tapi dengan membentak atau melarang seseorang untuk berjudi tapi dengan dipukuli.

Karena ber-amar ma’ruf nahi munkar dengan kekerasan ibarat memadamkan api dengan bensin. Bukan malah padam, justru semakin membesar.

Sehingga Habib Zain bin Sumith menjelaskan etika saat ber-amar ma’ruf nahi munkar. Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara yang baik, termasuk menghindari kekerasan.

Kita bisa melakukan pendekatan dengan persuasif. Lalu alangkah semakin baiknya bila kita mengetahui dan menyesuaikan pendekatan dengan kondisi sosial dan psikologis pelaku. Sehingga tindakan yang kita lakukan lebih tepat dan efektif untuk dilakukan.

Karena amar ma’ruf nahi munkar adalah proses. Dalam menjalankannya terkadang dibutuhkan waktu yang tidak sebentar dan hasil yang tidak langsung sesuai harapan. Sehingga umat muslim perlu untuk bersabar dalam menjalankannya.

Wallahu Alam.

Tinggalkan Komentar