Iman Kepada Hari Penyerahan Amal di Akhirat

Iman Kepada Hari Penyerahan Amal di Akhirat
Ilustrasi Penyerahan Amal (Pexels/Pixabay)

INIKALSEL.COM – Penyerahan amal di akhirat adalah salah satu bagian yang harus kita imani sebagai umat muslim. Saat itu kita akan melihat catatan amal yang telah dilakukan semasa hidup. Ada yang beruntung, tapi ada juga yang celaka.

Hari penyerahan amal (shuhuf) menurut Tuhfatul Murid Syarh Jauharatit Tauhid milik Imam Al-Baijuri adalah kumpulan catatan yang ditulis oleh malaikat mengenai segala ucapan, sikap, dan perbuatan manusia saat di dunia.

Sehingga kita dianjurkan untuk senantiasa mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangannya. Karena semua perbuatan kita kelak akan dipertanggungjawabkan.

Dilansir melalui Instagram @nuonline_id, ada 2 golongan umat saat hari penyerahan catatan amal ini. Pertama yaitu penerima shuhuf dengan tangan kanan. Lalu kedua, penerima shuhuf dengan tangan kiri.

Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dimana kondisi kedua golongan ini digambarkan secra gamblang, sebagaimana yang tertera dalam surah Al-Haqqah ayat 19-20 dan 25-26.

Mengutip Al-Mawardi dalam An-Nukat wal ‘Uyun, penggunaan istilah kanan dan kiri ini mengacu pada kebiasaan orang Arab. Di mana kanan melambangkan kebahagiaan dan sebaliknya, kiri adalah tanda kesengsaraan dan kecelakaan.

Golongan kanan di hari kiamat adalah mereka yang selamat dan catatan amalnya bercahaya. Ciri-ciri para golongan kanan adalah mereka yang beriman. Sehingga shuhuf bercahaya ini adalah tanda keselamatan mereka di akhirat.

Di dalam Tafsir Ar-Razi, orang-orang golongan kanan digambarkan sebagai orang yang sangat bahagia. Bahkan, ekspresi kebahagiaan itu akan diceritakan kepada kerabatnya.

Sementara golongan kiri adalah mereka yang celaka dan catatan amalnya hitam pekat. Golongan ini akan dihantui dengan rasa malu luar biasa karena melihat semua perbuatan dan ucapan buruknya selama hidup di dunia.

Kondisi ini diumpamakan seperti saat anak sekolah menerima rapor. Ada yang mendapat nilai yang baik. Namun ada juga yang nilainya merah semua, hingga ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri maupun orang lain.

Karena hari penyerahan catatan amal ini telah tertuang dalam Al-Qur’an dan hadits, maka bagi umat muslim yang tidak mengimaninya maka ia dianggap kufur.

Wallahu Alam.

Tinggalkan Komentar