Pandangan Islam Tentang Sifat Pemarah Pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Pandangan Islam Tentang Sifat Pemarah Pada Remaja dan Cara Mengatasinya
Ilustrasi Anak Marah (Pexels/Monstera Production)

INIKALSEL.COM – Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering atau pernah menjumpai orang yang pemarah, terutama anak-anak. Dilansir melalui Instagram @nuonline_id, anak-anak dan remaja cenderung memiliki watak pemarah karena perkembangan akalnya yang belum sempurna.

Karena faktor utama yang

mempengaruhi emosi seseorang adalah perkembangan akalnya. Sehingga semakin sempurna perkembangan akal seseorang, ia akan semakin mampu mengontrol emosinya.

Di usia ini biasanya amarah muncul karena faktor kebiasaan dan keyakinan. Dimana ia menilai dan yakin bahwa tindakannya tersebut benar dan baik.

Melalui kitab Az-Zawajir, Abdullah bin Mas’ud dalam muqaddimah khutbahnya mengatakan:

وَالشَّبَابُ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ

Artinya, “Masa muda (remaja) adalah bagian dari kegilaan.”

Menurut Al-Hafizh Abdurrauf Al-Munawi, karena dalam keadaan gila, maka seseorang kehilangan akalnya di usia ini. Sehingga remaja cenderung senang terhadap syahwat dan ingin melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri.

Namun selain karena akal yang belum sempurna, Al-Ghazali penyebut ada alasan lain yang membuat seseorang menjadi pemarah. Sehingga sikap pemarah ini ada yang mudah dibenahi dan ada yang sulit.

Seperti misalnya karena faktor watak bawaan sehingga mereka memang memiliki watak keras dan mudah marah. Sikap seperti ini termasuk penyakit hati. Sehingga karena sering marah-marah, mereka akan lebih sulit untuk mengontrol diri.

Al-Ghazali juga menambahkan, ghadhab atau marah adalah emosi karena lemahnya diri seseorang. Dimana orang-orang yang lemah cenderung lebih mudah emosi dari pada orang yang kuat.

Beliau juga menyebut cara mengatasi sifat pemarah ini dalam kitab Ihya’, yaiti dengan sering menyampaikan kisah-kisah orang yang bijaksana, pemaaf dan mampu menahan emosinya dari kisah para Nabi, wali, ahli hikmah dan para ulama.

Selain itu, tanamkan juga kisah dari orang-orang buruk yang mudah marah dan melampiaskan emosinya. Dengan begitu diharapkan mereka bisa memahami bahwa sikap dan tindakannya salah.

Sehingga pola pikir mereka yang awalnya membenarkan dan menganggap sikap pemarah ini baik perlahan bisa berubah. Perkembangan akal mereka juga diharapkan bisa lebih cepat sempurna dengan kisah-kisah penuh hikmah ini.

Selain itu, sebagai orang tua juga perlu memberi contoh sikap sabar dalam mengatasi amarah. Sehingga anak-anak yang dasarnya mudah sekali mencontoh akan lebih mudah untuk mengikuti sikap sabar tersebut.

Karena akan sulit bila hanya dinasihati tanpa dicontohkan. Anak-anak adalah peniru ulung. Sehingga kita harus mulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Wallahu Alam.

Tinggalkan Komentar