Belajar Kepemimpinan dari Catatan Kelam Pemerintahan Al-Walid II

Belajar Kepemimpinan dari Catatan Kelam Pemerintahan Al-Walid II
Ilustrasi Kepemimpinan (Pexels/Edmond Dantès)

INIKALSEL.COM – Islam memiliki sejarah tentang pemimpin yang buruk. Padahal, tugas pemimpin adalah memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Namun hal yang sebaliknya terjadi hingga ia tidak peka terhadap rakyat.

Dilansir melalui Instagram @nuonline_id, kisah Khalifah Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik, yang dikenal sebagai al-Walid II dari khalifah Bani Umayyah diabadikan oleh sejarah untuk menjadi pelajaran bagi umat setelahnya.

Dikisahkan al-Walid II punya catatan pemerintahan yang kelam. Al-Walid II lahir di tahun 90 Hijriah. Setelah pamannya Hisyam bin Abdul Malik wafat, Al-Walid II naik tahta di usia 35 tahun pada tahun 125-126 H.

Menurut catatan, al-Walid II pernah sengaja melakukan umrah hanya untuk bisa mabuk di depan Ka’bah. Saat ia naik tahta menggantikan pamannya, gerakan bawah tanah Bani Abbas (cikal bakal Bani Abbasiyah), orang-orang Syiah, hingga keluarganya mencoba menggulingkan kekuasaannya.

Namun sayang, kondisi ini tidak ia hiraukan. Sebaliknya, Al-Walid II justru acuh dan ll berfoya-foya. Di antara banyaknya hal buruk yang terjadi saat itu, kesalahan fatal Al-Walid II adalah tidak menjaga keutuhan keluarga Bani Umayyah.

Ia bahkan memicu pertikaian dengan sepupu-sepupunya dan membiarkan gerakan bawah tanah Bani Abbas berkembang di al-Humaymah dan Khurasan (sekarang wilayah Irak dan Iran).

Tak hanya itu, kepemimpinan Al-Walid II juga diwarnai dengan korupsi, kolusi, nepotisme, diskriminasi terhadap non-Arab, dan konflik antar suku Arab.

Akibat dari keacuhan Al-Walid pada kondisi rakyatnya dan politik saat itu membuat banyak pihak yang tidak puas atas kepemimpinannya. Hingga ia akhirnya dikudeta oleh sepupunya sendiri, Yazid bin al-Walid dan berujung pada runtuhnya Dinasti Bani Umayyah.

Kisah ini mengajarkan umat muslim untuk menjadi pemimpin yang peka pada kestabilan politik dan tuntutan masyarakat. Sehingga pemerintahan bisa utuh, tidak goyah, dan tidak binasa. Karena tidak mustahil keacuhan pemerintah akan tuntutan rakyat menjadi awal dari kehancuran kepemimpinannya.

Runtuhnya Dinasti Bani Umayyah di tahun 126 H di semoga bisa menjadi evaluasi dan pelajaran bagi kita semua untuk menjadi pemimpin yang baik, dengan peka terhadap masalah sosio-politik.

Semoga tidak ada lagi al-Walid II al-Walid II yang lain di zaman ini dan di masa yang akan datang. Sehingga masyarakatnya bisa aman dan nyaman karena pemimpinnya bijaksana dan tanggap atas masalah yang terjadi. Kestabilan politik pun bisa terjaga seperti yang dicontohkan di masa Rasulullah dulu.

Tinggalkan Komentar