Viral Penjual Es Teh, Ini Doa Ala Rasulullah saat Bertemu Pedagang

Viral Penjual Es Teh, Ini Doa Ala Rasulullah saat Bertemu Pedagang
Ilustrasi Penjual Es Teh Viral (X/Junto)

INIKALSEL.COM – Viral penjual es teh yang diolok-olok saat menjajakan dagangannya di pengajian Gus Miftah. Tindakan tidak terpuji sang Gus pun menuai banyak kritik di media sosial.

Pasalnya, apa yang dilakukan pada penjual es teh yang viral sama sekali tidak mencerminkan sikap umat muslim. Terlebih ia adalah pemuka agama dan sedang mengisi acara keagamaan.

Lantas, bagaimana islam mengajarkan umatnya saat bertemu pedagang?

Dilansir melalui Instagram @nuonline.id, ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dari Amr bin Harits.

Saat itu dikisahkan Rasulullah bertemu Abdullah bin Ja’far yang masih anak-anak dan sedang bermain “jual-beli” dengan pasir. Kemudian Rasulullah membaca doa untuknya.

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa dengan penjual yang hanya anak-anak dan ia sedang bermain sebagai penjual saja Rasulullah sangat peduli. Tentu kepedulian Rasulullah akan semakin berlipat bila bertemu pedagang sungguhan.

Islam mengajarkan umatnya untuk saling peduli satu sama lain, termasuk pada pedagang. Hal ini bisa dengan cara membeli dagangannya atau ikut memasarkannya. Terutama bila ia pedagang kecil.

Bila tidak membeli atau ikut memasarkan, umat muslim bisa membantu dengan mengirim doa pedagang tersebut diberi kelancaran rezeki dan laris jualannya.

Berikut doa yang diajarkan Rasulullah saat bertemu pedagang.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِي تِجَارَتِهِ

Allaahumma baarik lahuu fii tijaaratih.

Ya Allah, berilah ia keberkahan dalam usahanya berdagang

Jika pedagang yang dijumpai perempuan, kita ubah “hû” (dia [laki-laki]) menjadi “hâ” (dia [perempuan]), sehingga berbunyi “Allâhumma bârik lahâ fî tijâratihâ”.

Sementara itu, dilansir melalui Instagram @analisa.widyaningrum, fenomena ini termasuk dehumanisasi, yaitu keadaan saat seseorang membiarkan orang lain diolok atau disakiti di depan mereka.

Dehumanisasi terjadi bila mereka melihat orang lain seperti ‘bukan manusia’. Sehingga mereka tidak menunjukkan sikap empati pada orang lain.

Parahnya, dehumanisasi ini dibarengi dengan sikap diam, membiarkan, bahkan ikut tertawa pada penderitaan orang lain.

Ada 6 hal yang bisa memicu hal ini, di antaranya:

  1. Bystander Efect, yaitu kondisi saat seseorang merasa tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi karena ia hanya melihat kejadian tersebut.
  2. Konformitas Sosial, dorongan agar bisa diterima di suatu kelompok, sehingga ia cenderung membiarkan orang lain mengalami kesusahan.
  3. Teori Identitas Sosial, saat menyakiti yang lemah agar dianggap sebagai kelompok yang kuat.
  4. Takut Konsekuensi, membiarkan situasi buruk terjadi agar tidak menjadi korban berikutnya.
  5. Kurangnya empati, tidak merasa memiliki hubungan emosional dengan korban. Sehingga merasa tidak terdorong untuk menolong.
  6. Norma dan Hierarki, power dan hierarki yang kuat mendorong ketundukan meski ada ketidakadilan.

Sehingga dari kasus pedagang es teh viral ini kita bisa melihat pentingnya pendidikan yang berbasis nilai moral dan kecerdasan emosional. Kita juga seperti diingatkan bagaimana Islam mengajarkan umatnya saat bertemu dengan pedagang.

Wallahu Alam.

Tinggalkan Komentar