Bagaimana Cara Islam Mendidik Anak yang Membangkang, Keras Kepala, atau Nakal?

Bagaimana Cara Islam Mendidik Anak yang Membangkang, Keras Kepala, atau Nakal?
Ilustrasi Anak yang Nakal dan Membangkang (Pexels/KATRIN BOLOVTSOVA)

INIKALSEL.COM – Cara Islam mendidik anak yang membangkang, keras kepala, ataua nakal adalah dengan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. Dilansir melalui laman resmi NU Online, islam melarang orang tua memaksakan padangannya pada anak kecil. Karena standar kebenaran anak kecil, belum semapan orang dewasa. Kebenaran bagi mereka masih berganti-ganti, sesuai selera kesenangan mereka.

Sementara itu, islam justru lebih menonjolkan keteladanan dalam berinteraksi dengan anak. Nasihat dan penjelasan tetap harus dilakukan, tapi keteladanan tak bisa ditinggalkan. 

Hal ini pun diceritakan dalam kitab Sunan Abî Dawud. Imam Abu Dawud Sulaiman memasukkan sebuah riwayat menarik tentang Sayyidina Anas dan Rasulullah SAW. Sayyidina Anas bin Malik berasal dari suku Najjar, salah satu klan dari suku Khajraz di Yatsrib (Madinah).

Saat Rasulullah hijrah ke Madinah, banyak orang yang memberinya hadiah, tapi Ummu Sulaim tidak mampu melakukannya sehingga ia memberikan anaknya yang berusia 8 tahun sebagai hadiah. Sejak saat itu Sayyidina Anas yang masih kecil mengabdi pada Rasulullah selama 10 tahun.

Sehingga saat itu. Dunia Sayyidina Anas adalah bermain dan bersenang-senang. Sehingga saat disuruh oleh Rasulullah, terkadang ia tak segan menolaknya. Hal ini tidak aneh dan wajar karena begitulah anak kecil.

Namun, coba perhatikan sikap Rasulullah yang bisa menjadi pelajaran dan teladan bagi kita semua. Mendengar kalimat: Aku (Sayyidina Anas) tidak akan pergi melakukannya (saat disuruh), Rasulullah tidak terlihat marah, berwajah masam dan menghardiknya dengan keras. Namun Beliau meninggalkannya.

Setelah memberi jeda dan kemudian bertemu dengan Sayyidina Anas di pasar, Rasulullah baru memegang tengkuknya dan berkata, Wahai Anas, pergilah sebagaimana yang kuperintahkan padamu (tadi). Dan Sayyidina Anas menjawab: Baik, aku akan pergi (melaksanakannya), ya Rasulullah.

Memberi jeda dengan meninggalkan Sayyidina Anas setelah perintahnya ditolak membuat anak merasa diberi ruang agar ia tidak merasa ditekan. Anak kecil tentunya berbeda dengan orang dewasa.

Karena bagi anak kecil, ancaman bisa menjadi tekanan karena fitrah mereka memang suka bermain-main. Karena itu, Sayyidina Anas berkata bahwa selama sepuluh tahun ia melayani Rasulullah, Nabi tidak pernah sekalipun berkata kasar dan menyalahkannya.

Kisah ini mengajarkan umat muslim untuk tidak bertanya, “Apa kau sudah melaksanakan perintahku?”.

Karena kalau Rasulullah bertanya seperti itu, Sayyidina Anas bisa bingung menjawabnya karena ia belum melakukannya. Pertanyaan ini juga bisa membuatnya terpojok dan akhirnya berbohong.

Sehingga sikap terbaik adalah dengan pendekatan teladan yang baik dan mudah dimengerti anak-anak. Rasulullah tidak berwajah masam karena perintahnya belum dikerjakan. Sebaliknya, Beliau tertawa lepas tanpa beban.

Islam mengajarkan kelembutan pekerti dan kemuliaan akhlak sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sesuai riwayat tersebut, sikap ini justru menumbuhkan rasa tidak enak hati secara alami bagi Sayyidina Anas. Karena selama bertahun-tahun mengabdi pada Rasulullah, ia tidak pernah merasa disudutkan dalam keadaan yang akhirnya membuatnya berbohong. Rasulullah juga tidak pernah dibandingkannya dengan anak kecil lain. Karena membandingkan-bandingkan anak hanya akan membuatnya merasa kurang dihargai. Sayyidina Anas juga tidak pernah disalahkan atas kesalahannya melainkan memberi contoh yang benar.

Doa saat mempunyai anak yang membangkang, keras kepala, atau nakal.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوْءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِيْ قَبْلَ المَشِيْبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُوْنُ عَلَيَّ رَبًّا، وَمِنْ مَالٍ يَكُوْنُ عَلَيَّ عَذَابًا، وَمِنْ خَلِيْلٍ مَاكِرٍ عَيْنُهُ تَرَانِيْ، وَقَلْبُهُ يَرْعَانِيْ، إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

(Allaahumma innii a’uudzu bika min jaarissuu’, wa min zaujin tusyayyibunii qoblal masyiib, wa min waladin yakuunu ‘alayya robban, wa min maalin yakuunu ‘alayya adzaaban, wa min kholiilin maakirin, ‘ainuhu taroonii, wa qolbuhu yar’aanii, in ro’aa hasanatan dafanahaa, wa idzaa ro’aa sayyi’atan adzaa’ahaa)

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk, dan dari istri yang membuatku beruban sebelum waktunya, dan dari anak yang menguasaiku, dan dari harta yang menjadi azab atasku, dan dari teman dekat pembuat makar, matanya melihatku sedang hatinya mengawasiku, jika ia melihat kebaikan pada diriku maka ia menyembunyikannya, dan jika ia melihat keburukan maka ia menyebarkannya.”

Demikian cara islam mendidik anak yang membangkang, keras kepala, atau nakal. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Komentar