Bencana Penerbangan Terburuk Korsel, Korban Jiwa Pesawat Jeju Air Capai 179 Orang,

Pesawat Korsel
Detin-detik Jeju Air mendarat tanpa roda dan menabrak tembok sebelum meledak (tangkapan layar kanal YouTube Strait Times)

INIKALSEL.com –  Kecelakaan pesawat Jeju Air 7C2216 jadi bencana paling mematikan di Korea Selatan (Korsel).

Tragedi yang terjadi pada Minggu, 29 Desember 2024 lalu sisakan dua awak kapal selamat meski alami luka bakar cukup parah.

“Hanya bagian ekornya yang masih mempertahankan sedikit bentuknya. Bbagian lain hampir mustahil untuk dikenali,” kata kepala pemadam kebakaran Muan, Lee Jung-hyun, pada konferensi pers, Senin (30/12/2024).

Penyelidik sedang memeriksa serangan burung dan kondisi cuaca sebagai faktor yang mungkin terjadi, kata Lee.

Kantor berita Yonhap mengutip otoritas bandara yang mengatakan serangan semacam itu kemungkinan besar sebabkan roda pendaratan tidak berfungsi.

Kecelakaan itu adalah yang terburuk bagi maskapai penerbangan Korea Selatan sejak kecelakaan Korean Air tahun 1997 di Guam yang menewaskan lebih dari 200 orang, menurut data kementerian transportasi.

Insiden terburuk yang pernah terjadi di Korsel sebelumnya adalah kecelakaan pesawat Air China yang menewaskan 129 orang pada tahun 2002.

Para ahli mengatakan laporan serangan burung dan cara pesawat mencoba mendarat menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Berdasarkan peraturan penerbangan global, Korea Selatan akan memimpin penyelidikan sipil atas kecelakaan tersebut.

Penyelidikan melibatkan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) di Amerika Serikat tempat pesawat tersebut dirancang dan dibangun.

NTSB kemudian mengatakan pihaknya memimpin tim penyelidik AS untuk membantu otoritas penerbangan Korea Selatan. Boeing dan Administrasi Penerbangan Federal juga ambil bagian.

Jeju Air 7C2216, tiba dari ibu kota Thailand, Bangkok dengan 175 penumpang dan enam awak, mencoba mendarat tak lama setelah jam 9 pagi atau jam 07:00 WIB di bandara di selatan negara itu, kata kementerian transportasi Korea Selatan.

Beberapa jam setelah kecelakaan itu, anggota keluarga berkumpul di area kedatangan bandara, beberapa di antaranya menangis dan berpelukan saat relawan Palang Merah membagikan selimut.

Banyak korban tampaknya adalah penduduk daerah sekitar yang baru saja kembali dari liburan, kata para pejabat.

Tinggalkan Komentar