5 Wisata Dekat Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Kalimantan Selatan yang Pas Buat Healing, Cocok Untuk Liburan Keluarga

5 Wisata Dekat Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Kalimantan Selatan yang Pas Buat Healing, Cocok Untuk Liburan Keluarga
Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Kalimantan Selatan (Instagram / @muhammad_rifansyh)

INIKALSEL.COM – Ada beberapa pilihan wisata dekat Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Kalimantan Selatan yang bisa Anda tuju.

Tempat wisata ini memiliki keunikan dan daya tariknya masing-masing, sehingga cocok Anda kunjungi saat sedang liburan ke Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Pada musim liburan, mengunjungi tempat wisata yang berdekatan menjadi keuntungan tersendiri. Wisatawan bisa mengunjungi dua atau lebih tempat sekaligus dalam satu waktu. Salah satunya adalah wisata dekat Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Kalimantan Selatan yang bisa dikunjungi saat liburan dengan keluarga.

Lokasi Masjid Raya Sabilal Muhtadin sendiri berada di Jalan Jendral Sudirman Nomor 1, Antasan Besar, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70114.

Ada arsitektur kubah yang khas dan identik dengan bahan batu marmer di bagian internal, sehingga cocok dijadikan latar sebuah foto.

Cuacanya adem dan sejuk rasanya, sehingga wajar jika banyak orang jualan makanan di samping masjid, terutama saat hari Jumat.

Tidak hanya itu, pelataran dan teras juga cukup luas, hanya saja di bagian dalam (tempat sholat) ada bagian tertentu yang jadi langganan kotoran burung dan kelelawar, hal ini membuat banyak masyarakat yang mengharap masalah ini semoga segera diatasi.

Berikut adalah 5 pilihan wisata yang masih bisa dijangkau, agar liburan bersama keluarga semakin berkesan.

1. Museum Wasaka

Museum Wasaka merupakan tempat sejarah yang terletak di Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Lokasinya yang berada di Jembatan 17 Mei (Jembatan Banua Anyar) yang besar, panjang, dan kokoh ini membuat banyak orang mengatakan bahwa Museum Wasaka sangat unik.

Wisata ini sering disebut Museum Waja Sampai Kaputing menyimpan banyak benda bersejarah saksi bisu perjuangan rakyat Kalimantan Selatan melawan penjajahan Belanda.

Mulai tanggal 10 November 1991 Museum Wasaka diresmikan, bertempat di rumah Banjar Bubungan Tinggi yang kemudian di alihfungsikan dari bangunan hunian menjadi museum.

Sedangkan untuk alasan mengapa rumah Banjar Bubungan Tinggi yang semula bangunan huniandi alihfungsikan menjadi museum salah satunya untuk konservasi bangunan tradisional.

Museum sejarah yang berjarak 0,5 km dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin tersebut dapat membuat Anda melihat koleksi senjata-senjata modern hingga tradisional rakyat Banjar.

Sehingga di museum ini, Anda bisa belajar tentang sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan melawan penjajah.

Sebab, walaupun bentuk museum ini mungil, tapi di dalamnya tersimpan sekitar 400 benda-benda bersejarah selama perang Kemerdekaan.

Sebenarnya, ada banyak benda peninggalan dari berbagai perang, seperti, perang Banjar, Perintis Kemerdekaan, Perang Kemerdekaan, Pengisian Kemerdekaan, hingga periode Orde Baru.

Namun, karena tempat atau museumnya tidak memadai, terpaksa yang ditampilkan hanya koleksi benda-benda di periode Perang Kemerdekaan.

Beberapa benda yang bisa dilihat di museum ini antara lain, berbagai jenis senjata yang digunakan pejuang Banjar di masa revolusi fisik tahun 1945-1949.

2. Pasar Terapung Siring

Pasar Terapung Siring berjarak sekitar 1,8 km kilometer dan bisa ditempuh sekitar 5 menit menggunakan mobil atau motor dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Tempat ini menjadi pasar tradisional salah satu ciri khas Banjarmasin yang telah ada sejak zaman kerajaan Banjar.

Tempat yang awalnya digunakan oleh penduduk setempat untuk berdagang hasil bumi dan kebutuhan sehari-hari tetapi sekarang malah telah menjadi salah satu objek wisata terkenal.

Lokasinya ada di Jalan Piere Tendean Sungai Martapura,, Gadang, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70123.

Pasar Terapung Siring pada hari weekend atau weekdays pun sama saja, tetap terdapat sekelompok pedagang kecil yang berdagang dari atas perahu klotok mereka.

Pasar tradisional yang berjarak dekat dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin ini membuat masyarakat setempat dapat menghasilkan uang dari membawa berbagai barang dagangan, mulai dari buah-buahan segar hingga makanan ringan khas Martapura, serta beragam suvenir dan barang kelontong yang ditawarkan dan dijual ke pembeli turis lokal maupun mancanegara.

Sehingga Anda bisa berbelanja atau kuliner di pasar ini, terutama di malam minggu dan Anda akan mengetahui bahwa pasar ini benar-benar unik, sebab terlihat jelas kalau cara mereka menjual barang dagangan sambil mengacungkan jempol, mengundang pembeli yang berjalan di sepanjang sungai untuk mampir ke perahu mereka.

3. Taman Siring 0 Kilometer

Taman Siring 0 Kilometer terletak di Jl Jenderal Sudirman, Banjarmasin, yakni tepat di pinggir jalan tepian Sungai Martapura.

Lokasinya berjarak sekitar 1,1 kilometer dengan durasi tempuh 3 menit dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Destinasi wisata yang posisinya di depan bekas perkantoran Gubernur Kalimantan Selatan ini menyuguhkan bangunan Tugu titik 0 Km Kota Banjarmasin.

Mulai dari bersantai hingga berkumpul dengan kerabat tempat ini sangat cocok lantaran menyajikan pemandangan asri Sungai Martapura dengan lalu lalang transportasi sungai dan aktifitas di seberangnya.

Di Taman Nol Kilometer atau Taman Siring 0 Kilometer juga terdapat arena bermain dan panggung serta bangku panjang melingkar yang menghadap ke panggung dan terdapat dermaga sungai di sisi taman.

Beberapa acara kerap diadakan di kawasan ini karena memang lokasinya strategis, bahkan Pasar Ramadhan juga beberapa kali menggunakan tempat ini.

Kawasan ini akan semakin indah karena Pemprov Kalimantan Selatan membangun fasilitas di lahan bekas perkantoran Pemprov Kalimantan Selatan yaitu taman, joging track, musala, dan fasilitas penunjang lainnya.

Tidak hanya itu, karena terdapat pula fasilitas lain yang berfungsi sebagai layanan publik antara lain SIM corner, samsat corner, info wisata, dan lain sebagainya.

Sehingga Anda ke sini tidak hanya dapat melihat monumen dan patung yang tidak berjarak jauh dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin itu saja.

4. Patung Bekantan

Ikon Kota Banjarmasin yakni sejenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna hitam kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus Arassy itu juga bisa menjadi salah satu tempat tujuan wisatawan.

Patung ini berjarak 2,4 km dengan durasi tempuh 7 menit dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Jika hendak berkunjung ke Patung Bekantan, silakan datang ke lokasinya yang berada di Sungai Baru, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Patung bekantan diketahui dibangun dengan biaya Rp 2,6 milliar dibuat Pemerintah Kota Banjarmasin dimaksudkan untuk menjadi magnet wisata.

Patung Bekantan bentuknya kera berkulit coklat dan putih berhidung mancung, karena memang hewan tersebut banyak di Pulau Kalimantan, bahkan di Provinsi Kalimantan Selatan hewan ini tersebar di hutan-hutan, seperti hutan di Pulau Bakut.

Ikon Kota Banjarmasin yang berjarak tidak jauh dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin itu memperlihatkan posisi patung yang tidak jauh berada satu kawasan dengan menara pandang dan pasar terapung. Tepatnya, patung terletak di seberang Taher Square, dekat Jembatan Dewi.

Patung bekatan yang memiliki nama latin Nasalis Larvatus dibuat dalam posisi duduk dengan menggaruk kepala, sedangkan tangan yang lain memegang serentengan buah rambai. Rambai merupakan buah khas hutan Kalimantan, buah ini adalah makanan favorit bekantan.

5. Taman Kamboja

Taman ini berada di Kertak Baru Ulu, Kecamatan Banjarmasin Tengah, tepatnya di Jalan Anang Adenansi. Dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Kalimantan Selatan jarak ke 700,0 m dengan durasi tempuh 2 menit.

Taman Kamboja yang ramai dikunjungi masyarakat di sore hari atau akhir pekan ini dulunya adalah bekas area pemakaman.

Taman yang berada di Kertak Baru Ulu, Kecamatan Banjarmasin Tengah tersebut juga ditetapkan sebagai Cendekia oleh kesultanan Banjar.

Taman ini memiliki pepohonan rindang, wahana permainan, air mancur, dan area jogging, serta ternyata penamaannya diambil dari nama pohon atau bunga Kamboja, tanaman yang melekat dengan kawasan pemakaman.

Pada masa Hindia Belanda, Taman Kamboja adalah kompleks Pemakaman bernama Nieuw Kerkhof (Kuburan Baru) yang dulunya Jalan tersebut bernama Kerkhofflaan.

Kuburan lama-nya berada di belakang Benteng Tatas (Masjid Raya Sabilal Muhtadin sekarang) dan kuburan itu digunakan untuk memakamkan warga dan militer Belanda.

Dengan alasan perluasan wilayah benteng, maka kuburan kemudian dipindah ke wilayah Jalan Kamboja (Kerkoflaan).

Sebelum jadi Jalan H Anang Adenansi seperti masa sekarang, dahulu di tahun 1950an, namanya adalah Jalan Kamboja.

Setelah dipindah, di atasnya lalu didirikan bangunan bangunan untuk tempat tinggal serdadu serdadu Belanda.

Bahkan makam-makam di kompleks Pekuburan bernama Nieuw Kerkhof pada umumnya dibuat dalam bentuk artistik seperti tugu kecil yang terbuat dari batu marmer.

Pada masa Jepang, Nieuw Kerkhof (Kuburan Kamboja) dahulu sempat menjadi zona terlarang karena terbilang angker oleh masyarakat sekitar.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu kawasan itu tidak lagi menjadi zona terlarang.a Karena sudah terdapat pemukiman penduduk yang kebanyakan berasal dari para pendatang.

Kemudian, pada tanggal 27 Desember 1949 seiring pengakuan Ratu Belanda Juliana dalam sebuah sidang di Istana Amsterdam atas kemerdekaan Indonesia, saat penyerahan kedaulatan (soevenereiniteit soverdracht) di hadapan delegasi Republik Indonesia Serikat (RIS) yang waktu itu pimpinan Perdana Menterinya adalah Mohammad Hatta. Aset-aset milik Belanda beralih tangan menjadi milik Indonesia.

Termasuk kompleks Pekuburan Kamboja atau Nieuw Kerkhof yang dulunya luasnya lebih dari 4 hektare.

Dimana pengelola pekuburan Nasrani di pusat kota di Jalan Anang Adenansi itu berdasar Staatblad 121 tentang Ordernering, Nieuw Kerkhof atau Pekuburan Kamboja diserahkan ke ahli waris warga keturunan Belanda di Banjarmasin.

Koridor Nieuw Kerkhof itu juga mencakup kawasan Puskesmas Cempaka, hingga ke gedung bekas Bank Panin, dan berbatasan dengan Kampung Teluk Dalam.

Hingga, akhirnya pada tahun 1950 sebanyak 8 gereja di Banjarmasin membentuk Perkumpulan Gereja-Gereja, dari kalangan penganut Kristen Protestan dan Katolik untuk menjadi pengelola lokasi pemakanan tersebut.

Agar lebih kuat, pada 1985 para petinggi gereja juga sepakat membentuk badan hukum bernama Yayasan Sejahtera Abadi untuk memanfaatkan dan meminta izin secara penuh menggunakannya kepada pemerintah. Bahkan, perkumpulan gereja-gereja tersebut juga mengelola sejumlah lokasi pemakaman.

Diantaranya di Kota Amuntai, Kota Kandangan yang kini berubah menjadi Lapangan Tenis Tumpang Talu.

Kemudian, Pembongkaran Kuburan Kamboja itu dimulai sejak era Wali Kota Banjarmasin periode 1971-1973 yang dipimpin Riduan Iman, dengan persyaratan pemakaman baru bagi warga Nasrani itu harus berada tidak boleh lebih dari 30 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Namun, hal tersebut baru terealisasikan di era WalI Kota Sadjoko yang menjabat pada tahun 1989-1999 yang dimotori 8 gereja.

Pada akhirnya, di November 1993, selama jangka waktu dua pekan, semua pusara khas arsitektur gotik dan lainnya, dipindahkan dari Kuburan Kamboja ke Pulau Beruang, Jalan Ahmad Yani Kilometer 21, Banjarbaru.

Demikian 5 wisata dekat Masjid Raya Sabilal Muhtadin di Banjarmasin yang bisa jadi alternatif tempat liburan yang bagus untuk dituju bersama keluarga. Semakin banyak lokasi wisata yang dikunjungi, liburan akan semakin berkesan.***

Sumber: Google Maps

Tinggalkan Komentar