Kirab Sedekah Gunung dan Larungan Kerbau: Kearifan Tradisi Malam 1 Suro di Lereng Gunung Merapi

INIKALSEL.COM – Setiap tahun, tepat pada Malam 1 Suro, masyarakat lereng Gunung Merapi, terutama di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, merayakan sebuah tradisi yang sarat akan makna mistis dan kearifan lokal.
Tradisi yang dimaksud adalah Kirab Sedekah Gunung dan Larungan Kerbau, yang merupakan bentuk ungkapan syukur atas kesuburan alam dan upaya untuk menjaga keselamatan dari ancaman Gunung Merapi yang terkenal dengan potensi bahayanya.
Tradisi ini bermula dari zaman Pakubuwono VI yang pertama kali melaksanakan larungan kerbau ke kawah Gunung Merapi.
Sejak itu, masyarakat setempat menjadikan ritual ini sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya mereka.
Meskipun Gunung Merapi seringkali dalam status erupsi yang tinggi, tradisi ini tetap dilaksanakan tanpa kehilangan momentum.
Setiap tahun, kepala kerbau dibawa naik ke puncak Gunung Merapi oleh para pembawa yang secara misterius dapat berjalan lebih cepat dari yang lain, seolah-olah tanpa merasakan beban yang mereka pikul.
Fenomena ini menjadi salah satu misteri menarik dalam tradisi ini.
Selain larungan kerbau ke kawah, daging kerbau juga dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol keberanian dan berbagi berkah dalam menghadapi alam yang kadang tidak terduga.
Tradisi Kirab Sedekah Gunung dan Larungan Kerbau bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga simbol penghormatan dan ketakutan yang sehat terhadap Gunung Merapi.
Bagi masyarakat setempat, menjaga tradisi ini adalah bagian dari komitmen untuk menjaga keseimbangan dengan alam dan menghormati kekuatannya.
Kehadiran Forkopimda Kabupaten Boyolali, bersama dengan Dandim 0724/Boyolali Letkol Inf Wiweko Wulang Widodo, S. Pd. M. Han., menambah nilai dan kehormatan bagi acara ini.
Ini juga menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan budaya lokal serta mendukung upaya masyarakat dalam menjaga harmoni dengan alam.
Tradisi Kirab Sedekah Gunung dan Larungan Kerbau di Gunung Merapi bukan hanya sekadar ritual tahunan, melainkan juga bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat Boyolali yang erat terkait dengan alam sekitarnya.
Dengan dilaksanakannya tradisi ini setiap tahun, masyarakat tidak hanya menunjukkan keberanian dalam menghadapi potensi bahaya alam, tetapi juga menjaga kekayaan budaya yang mereka warisi dari generasi ke generasi.
Sumber: Lenterakalimantan.net
BACA JUGA
